Good bye QDEES…welcome to LITTLE CALIPH

31 Dec

14 bulan telah berlalu…
Kini, mujahidku kian berganjak ke tahun kedua playschool.atau dengan istilah lain kindergarden.

Tahniah buat Adam Harith kerana mampu bertahan berhempas pulas menghabiskan 4 sem di Tadika Minda Elit walaupun diuji dengan pelbagai cabaran.Selalu terkena URTI.ada juga terjangkit head lice.tak lupa juga jangkitan scabies.

Alhamdulillah.Allah telah memudahkan niat hambaNya (baca:parents) demi memupuk anak ini mencintai ilmu.

Hari-hari terakhir Adam di QDEES.

image

image

image

Buat guru-guru di Tadika Minda Elit…
Tahniah dan sekalung penghargaan buat jasa kalian mendidik dan mengasuh anak ini. Moga jasa kalian di balas dengan sebaik-baik balasan.

Buat kawan-kawan Adam…
Muiz…..Mia…..Ishak…..
Terima kasih atas persahabatan kalian. Betapa eratnya kalian di sekolah sehinggakan Adam masih menyebut-nyebut nama kalian bilamana berada di rumah.

For Little Caliph…
Nantikan kehadiran si cilik ini untuk mengaup ilmu ukhrawi dan duniawi untuk menjadi khalifah di bumi Illahi.
Aminnn…

Image

Sharing

26 Nov

image

Bismillahirrahmanirrahim

26 Nov

Salam buat followers sekalian.
Subhanallah. Terlalu lama saya meninggalkn medan penulisan ini.rindu dalam disulami kesibukan pekerjaan dan keluarga.
Moga coretan ini menjadi jump-start utk saya berkarya lagi.
Allah permudahkanlah dan istiqamahkanlah usaha-usaha saya ini.

Sesuatu yang menghilangkan nilai-nilai doa

22 Apr

Diantara permasalahan yang dapat menghilangkan nilai-nilai doa atau pengaruh doa terhdap pelakunya adalah :

1-sikap tergesa-gesa dalam berdoa

2-merasa tidak diterima doanya

3-merasa rugi dalam melakukan doa

4- tidak pernah melakukan doa pada waktu mendapat kesenangan dan berdoa sekuat tenaga apabila dihimpit kesukaran.

                Orang yang berdoa serupa dengan orang yang menaburkan benih atau orang yang sedang menanam tanaman, maka ia harus rajin merawat dan menyiraminya, maka jika dia jarang merawatnya  atau malas menyiraminya, tanaman itu akan tumbuh dengan buruk, begitu juga jika seseorang berdoa dengan sikap tergesa-gesa, atau berdoa pada waktu tertentu sahaja, maka doa tersebut kurang sempurna, lambat sampai ke sisi Allah swt dan lambat pula terkabulnya.

                Dalam sebuah hadis dalm Sahih Bukhari, disebutkan hadis yang berasal dari Abu Hurairah ra, bahawa Rasulullah saw bersabda  :

“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan apabila kalian berdoa dengan sikap tidak tergesa-gesa”

                Kemudian, salah seorang shabat berkata lagi : “Aku telah berdoa namun doaku belum dimakbulkan lagi.” (Imam Bukhari dan Imam Muslim)

                Dalam hadis Imam Muslim disebutkan:
                “Doa seseorang hamba akan selalu dikabulkan apabila dia tidak melakukan perbuatan maksiat, atau tidak memutuskan hubungan sanak keluarga dan jika pada ketika berdoa tidak dengan sikap tergesa-gesa.” Kemudian Rasulullah saw ditanya: “Apakah yang dimaksudkan dengan tergesa-gesa itu?” Lalu Rasulullah saw menjawab: “Tergesa-gesa itu maksudnya bahawa seseorang selalu mengatakan, “saya telah berdoa, saya telah berdoa,” padahal dia belum mengetahui apakah doanya diterima atau tidak, maka orang yang demikian ini akan merasa rugi jika doanya tidak dimakbulkan, yang akibatnya dia meninggalkan berdoa atau bosan untuk berdoa.”

                Sedangkan dalam hadis Imam Ahmad yang disebutkan dalm kitab Musnad, iaitu hadis yang berasal dari Anas bahawa dia berkata: Rasulullah saw telah bersabda :

                “Seseorang itu akan selalu dalam kebaikan selama dia tidak bersikap tergesa-gesa,” kemudian para sahabat bertanya: “Apakah yang dimaksudkan tergesa-gesa itu, wahai Rasulullah saw? Kemudian Rasulullah saw menjawab : “Tergesa-gesa itu maksudnya seseorang yang mengatakan: “Aku telah berdoa kepada Tuhanku dan hingga sekarang belum dikabulkan.”

 

Petikan :Penyakit Rohani dan Penyembuhannya oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziah

Saat bersammu cinta pun perlu ILMU

20 Apr

Berkomunikasi, bagi manusia yang hidup tak sendiri, adalah kebutuhan. Berkomunikasi bagi dua orang yang seatap sekamar mandi, adalah keniscayaan. Dengan komunikasi kita mengungkapkan perasaan, hasrat, cita-cita dan cinta. Dengan komunikasi, kita berbagi. Dengan komunikasi kita saling member penguatan, motivasi dan sejuta hal yang tak bisa hanya kita pendam dalam hati. Seperti kata Ustaz Anis Matta, cinta selalu menghajatkan kata. Dan berawal dari katalah sebuah komunikasi-verbal utamanya- terjadi.

 Sudah selayaknya bagi kita, untuk memanfaatkan komunikasi sebagai saranan mengakrabkan hati, memadukan jiwa, dan menumbuhkan cinta. Demikianlah Allah menjadikan kita mampu berbicara., mendengar, dan memahami, agar kita menjadikan suami atau isteri, sebagai sahabat berbagi dalam beribadah dan menunaikan perintah-perintahNya.

Permasalahan menjadi pelik, ketika ilmu tentang komunikasi itupun tak dimiliki. Yang terjadi di rumah kita seringkali bukanlah komunikasi. Hanya suara yang lalu lalang di antara dua orang. Tidak ada timbal balik. Tidak ada yang bisa disebut sebagai komunikator. Tak ada yang pantas disebut sebagai komunikan.

Cukuplah memang iman dan takwa sebagai bekal hidup. dan ia adalah sebaik-baik bekal. Tetapi setahu saya, keimanan bertambah dan berkurang naik dan turun. Dan setahu saya, iman serta taqwa pun menghajatkan ilmu. Maka Allah berfirman, “Fa’lam annahu Laa Ilaaha Illallaah”, maka ilmuilah sesungguhnya tiada Ilah selain Allah”. Berilmulah sebelum mengimaninya. Maka Imam Al- Bukhari menulis bab pertamanya, ‘Al-ilmu Qabal Qauli wal ‘Amaal”, Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. Kalau sedikit kita ubah kata-katanya, maka menjadi, “Ilmu, sebelum berkomunikasi dan bertindak”.

Barakah yang kita temukan di beningnya air mata

18 Apr

“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (Al-Ankabut : 2-3)

                Tiada yang akan dibiarkan Allah sekadar mengatakan kami telah beriman, sebelum ia diuji. Seolah, Allah telah memproklamasikan, bahawa konsekuensi iman adalah ujian. Dalam iman ada penjenjangan. Dalam syurga ada tingkatan-tingkatan. Dan untuk menempatkan makhlukNya, Allah memberikan ujian-ujian. Dan sungguh kita tak sendiri. Orang-orang sebelum kita pun telah diuji, maka  Allah memiliki hujjah atas orang-orang yang berjihad dan bersabar.

                Mengapa ujian terasa begitu berat? Yang pasti, Ia tak membebani hambaNya di luar kesanggupannya. Tetapi, jangan salah mengertikan. Kalau ujian itu hadir untuk kita, artinya Allah maha Tahu bahawa kita mampu menanggungnya. Selebihnya, adalah soal kemauan untuk menghadapi dan  bukannya melarikan diri. Kesungguhan untuk mengatasi dan bukannya bertiarap. Meski, rasa manusiawi adalah kewajaran.

                Di saat apapun, barakah itu membawakan kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi  suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apa pun masalah yang sedang membadai rumahtangga kita. Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik-nitik. Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.

Didiklah anak-anak kita…

14 Nov

“Hai, saya Upin. Ini adik saya, Ipin”

“Betul-betul”

“Ini kisah kami berdua”

“Eh, engkau dah lupa ke?”

 “Haa,ini kisah kami semua”

“ Hai !!!”

Itulah skrip saban hari yang kini menjadi tontotan rasmi buah hatiku, Adam Harith Mohd Zahir. Pantang terdengar olehnya lagu tema dan muqaddimah animasi bersiri Upin Ipin, pasti mata si kecil yang masih suci ini melilau ke sana dan ke sini mencari punca bunyi tersebut. Tidak kiralah di mana dia berada, di dalam tandas, di kedai runcit mahupan semasa menaiki bas Rapid KL. Subhannallah, seawal usia dua tahun, dia sudah bijak menghafal dan menghayati bait-bait dialog siri animasi tersebut.

Kadang-kadang dalam tindak tanduk sehariannya, pasti ada keletah yang mencuit hatiku dan suami yang ditirunya dari siri animasi tersebut. Yang paling kami bangga adalah istiqamahnya Adam dengan bacaan doa sebelum makan. Pertama kali dia beraksi begitu, hampir sahaja empangan air mata si ibu pecah. Ya, air mata kebanggaan. Bangga kerana anak ini mampu meniru aksi positif dari animasi tersebut. Masih terbayang bilamana kedua-dua tangan kecil itu diangkat dan dirapatkan seterusnya di dekatkan ke dagunya.Bila sahaja dia menadah tangan, pasti mulutnya termuncung-muncung membaca doa walaupun kami sendiri tidak memahami kata-katanya. Kadang-kadang, doanya lagi panjang dari doa yang kami bacakan , mungkin permintaannya lagi banyak pada Illahi yang Maha Pemberi Rezeki. Sudah hampir 3 bulan Adam Harith tetap beristiqamah membaca doa setiap kali makan. Dialah yang mengingatkan kami tatkala kami terlupa menadah tangan dek kerana kami membaca di dalam hati.Alhamdulillah, min Fadhli Rabbi.

Bukan siri animasi Upin Ipin yang ingin daku ketengahkan. Cuma, ibrah dari kisah ini yang menjadi starting point untuk daku dan suami menggiatkan lagi usaha-usaha untuk mengajar Adam Harith tentang adab-adab dalam kegiatan seharian. Seperti mana sabda Rasulullah saw : “Ajarilah anak-anakmu adab…….” mungkin sebelum ini, kami sudah mendedahkan padanya tentang adab-adab dalam kehidupan seharian, contohnya membaca doa menaiki kenderaan, membaca doa makan dan sebagainya, tapi, ajaran itu hanya menjadi input yang hanya disimpan dalam memori discnya tanpa adanya output. Alhamdulillah, doa dan harapan kami untuk melihat output yang diproses oleh buah hati ini terhasil jua walaupun agak lambat. Well done, Adam Harith!

‘Jangan mudah berputus asa’. Itulah hakikat dalam mendidik buah hati ini menuju syurga. Untuk menulis dan menuturnya mungkin agak senang,tetapi, untuk merealisasinya dan mendarah daging dalam kehidupan kita sebagai ibu bapa terutamanya amatlah sukar dan perlukan sokongan dan dokongan dari insan yang bergelar suami yang juga merupakan bapa kepada buah hati ini. Sudah menjadi lumrah, si kecil ini bagaikan kain putih yang suci lagi murni untuk dicorakkan oleh kedua ibu bapanya sama ada untuk menghasilkan corak yang cantik, berwarna warni dan indah dipandang orang ataupun corak yang hitam legam,statik dan dicemuh masyarakat. Seperti mana hadis Rasulullah saw,” anak itu ibarat seperti kain putih,ibu bapalah yang akan mencorakkannya menjadi nasrani, yahudi ataupun majusi”. Sudah jelas lagi terang, itulah tanggungjawab sebagai ibu bapa yang perlu digalas dengan penuh beramanah dalam membawa anak-anak ini mengenal Allah yang menciptaNya. Berat, tetapi Insya Allah, mampu digalas dan dipikul selagi mana ibu bapa itu sedar anak-anak merupakan mad’u yang paling hampir dan paling terpengaruh dalam kehidupan ibu bapa yang juga bergelar seorang dai’e.

Di sebalik kisah ini, apa yang kami dapat sebagai ibu dan bapa pada si kecil ini adalah, si anak yang masih suci ini tidak pernah gagal untuk meniru setiap perbuatan yang dilihatnya sama ada dari kaca televisyen, skrin computer mahupun tindak tanduk ibu bapanya. Dan di sinilah peranan ibu dan bapa dalam menjadi ikutan dan juga qudwah untuk anak-anak yang tercinta. Ayuh, ibu dan bapa, lengkapkan diri anda dengan akhlak yang murni agar si anak ini menjadi seperti Muhammad Al-Fateh dan juga Mus’ab Bin Umair di era 2020 ! jangan asyik hidangan si permata hati dengan animasi upin dan ipin, sebaliknya dedahkan pada si kecil ini nasyid Alif Ba Ta yang pasti akan mencuit dan menghiburkan jiwa anak-anak ini di samping pendedahan awal kepada Kalamullah.

 

A BA TA SHA JA HA KHA……….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.