Archive | November, 2008

Aku Mencintaimu dan Mendukungmu

18 Nov

ana kongsikan sebuah artikel yg dipetik dr blog Ummu Wafa’, mg bermanfaat
http://istisyhad.blogspot.com/
 
Aku Mencintaimu dan Mendukungmu

Oleh: Dra. Anis Byarwati, MSi.

Ekspresi cinta bisa bermacam-macam. Bagaimana dengan ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah? Menjadi aktifis, saya rasa tidak berarti kehilangan ekspresi dalam mencintai pasangan. Bahkan menurut saya, ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah itu unik, karena juga harus punya pengaruh positif untuk dakwah. Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya ekspresi kita dalam mencintai pasangan dengan dakwah?Berbicara soal cinta mencintai, saya terkesan dengan filosofi cinta yang dimiliki ibu saya. Filosofi beliau ini saya ‘tangkap’ secara tak sengaja ketika beliau sedang ‘menceramahi’ adik bungsu saya yang laki-laki yang sedang kasmaran. Cerita sedikit, begini kira-kira sebagian kecil isi ceramah ibu saya..’Kalau kamu mencintai seseorang malah membuat kamu jadi malas belajar, malas kuliah, malas ngapa-ngapain, membuat kamu malah jadi mundur kebelakang, itu cinta yang nggak benar..Jadi begitu rupanya. Saya mencoba merenungi kata-kata itu lebih dalam. Saya merasakan ada kebenaran dari ‘ceramah’ ibu saya itu. Mencintai seseorang tidak boleh membuat kita menjadi mundur ke belakang. Sebaliknya, mencintai seseorang harus membuat kita lebih produktif, lebih berenergi, lebih punya vitalitas. Singkatnya, mencintai seseorang harus membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya!Lalu secara reflek saya mengaitkan itu dengan kehidupan cinta antara pasangan aktifis dakwah. Antara Ummahat al-Mukminin dengan Rasul Yang Mulia, antara para shahabiyat dengan suami mereka. Lihatlah ekspresi cinta Fathimah putri Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib, Asma’ binti Abi Bakar terhadap Zubair bin Awwam, Ummu Sulaim terhadap Abu Thalhah, juga ekspresi cinta Khansa’, Nusaibah, dan para aktifis dakwah zaman ini. Mencintai suami tidak membuat mereka menjadi lemah atau mundur ke belakang. Mencintai suami juga tidak membuat mereka menjadi tak berdaya atau tak mandiri. Justru yang kita saksikan dalam sejarah, mencintai membuat mereka menjadi semakin kokoh, lebih produktif dan kontributif dalam beramal, lebih matang dan bijaksana dalam berperilaku. Dengan kata lain, mereka menjadi semakin ‘berkembang’ dan ‘bersinar’ setelah menikah!Betapa indahnya jika ekspresi cinta kita kepada suami membawa dampak seperti itu! Betapa indahnya jika ekspresi kita dalam mencintai suami memberi pengaruh posititif pada kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai aktifis dakwah.Menurut saya, mencintai suami tidak berarti ‘kehilangan’ diri kita sendiri. Tidak juga berarti kehilangan privacy, tidak membuat kita merasa ‘terhambat’, ‘terbelenggu’, atau ‘tak berdaya’. Kita bisa mencintai suami kita sambil tetap memiliki kepribadian kita sendiri, tetap memiliki privacy. Tentu saja semuanya dalam batas tertentu dan tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan syari’at Allah.Bahkan yang lebih dahsyat adalah, jika cinta kita kepada suami memiliki ‘kekuatan’ yang menggerakkan dan memotivasi. Lalu cinta itu mampu membuat kita ‘berkembang’, menjadikan kita semakin energik, produktif dan kontributif! Dengan begitu, pernikahan membawa keberkahan tersendiri bagi dakwah. Karena, dakwah mendapatkan ‘’ekuatan dan darah baru’ dari pernikahan para aktifisnya.Apakah hal itu terlalu idealis? Karena kenyataan kadang berkata sebaliknya. Berapa banyak perempuan kita yang setelah menikah merasa dirinya tidak berkembang? Atau merasa hilang potensinya? Saya tidak ingin mengatakan kondisi ‘tenggelamnya’ perempuan setelah menikah sebagai sebuah fenomena, meski kondisi seperti ini sering saya jumpai di Jakarta dan juga ketika saya berkunjung ke daerah-daerah.Saya tak ingin membahas kenapa itu terjadi, apalagi mencari ‘kambing hitam’ segala. Tetapi kita patut merenungkan kata-kata Imam Syahid Hassan Al-Banna ketika berbicara tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Saya kutipkan kata-kata beliau ini yang terdapat dalam buku Hadits Tsulasa, halaman 629..Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah..’Rumah tangga merupakan lahan amal. Rumah tangga juga menjadi markaz dakwah. Perjalanan kehidupan rumah tangga para aktifis dakwah bukan hanya dipenuhi romantika semata, tetapi juga diwarnai oleh dinamika semangat beribadah, beramal dan berdakwah. Sebuah perjalanan rumah tangga yang bernuansa ta’awun dalam memikul beban hidup dan beban dakwah. Subhanallah!Saya memberikan apresiasi kepada para perempuan yang setelah menikah justru semakin ‘bersinar’, kokoh, matang, bijaksana, energik, produktif dan kontributif dalam beramal, sambil menjaga keseimbangan dalam menunaikan tugas sebagai istri dan ibu. Saya percaya, untuk bisa mendapatkan semua kondisi itu ada proses panjang, kerja keras dan pengorbanan yang tidak kecil. Barakallahu fiiki.Lalu untuk perempuan yang masih merasa ‘terhambat, terbelenggu dan tidak berkembang’ setelah menikah, saya ingin memberi apresiasi secara khusus. Berusahalah untuk menghilangkan perasaan terhambat, terbelenggu atau tidak berkembang itu. Ya, sebab membiarkan perasaan-perasaan semacam itu menguasai diri kita, sama saja dengan ‘menggali kuburan sendiri’. Bukankah lebih baik jika kita tetap berpikir jernih dan positif? Lalu mencari bentuk kontribusi yang paling memungkinkan yang bisa kita berikan untuk dakwah. Bisakah kita tetap berhusnuzhon, selama kita ikhlas menjalani hidup kita, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kita? Bisakah kita tetap yakin, bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh gelar, jabatan, posisi, kedudukan, ketokohan dan kondisi fisik lainnya?!’Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertakwa diantara kamu’ (QS al-Hujurat:13).Jadi, tetaplah tegar dan sedapat mungkin beramal sesuai kemampuan dan kesanggupan, karena kita tidak dituntut untuk beramal diluar kemampuan dan kesanggupan kita. Barakallahu fiiki!

Advertisements

Di sisi mujahid, ada mujahidah

8 Nov

Oleh: Seruan  

             Terkadang hati ini tertanya-tanya….kenapa masih perlu menunggu? Sedangkan aku tahu, aku telahpun menemui mujahidku… diri ini terlalu yakin, dialah jawapan doa hari2 ku… “Ya Allah, kurniakanlah kepada ku hamba Mu yg soleh sebagai suami, agar dia dapat membimbingku menuju syurgaMu…” 

 

Resah gelisah hati menunggu…mengira setiap detik dan waktu,  impian itu menjadi kenyataan… bersama-sama si mujahid… menemaninya dalam perjuangannya… eh?? perjuangan?? Ya Allah…aku lupa lg… seorang mujahid, tujuannya satu… berjuang malah berkorban utk menegakkan Deen-ul-haqq… walau telah bergelar suami, perjuangan tetap berjalan.. pengorbanan tetap diteruskan!! Malah itu juga seharusnya menjadi perjuangan aku juga bukan?..

“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya….” [33:4] 

 

Hati si mujahid telahpun sarat dgn cinta kepada Rabbnya.. yg menjadi pendorong kepada perjuangannya.. (begitulah harapnya) .. mana mungkin pada masa yg sama, si mujahid menyintai ku (setelah bergelar isteri) dengan sepenuh hatinya? Walaupun setelah ku curahkan selautan sayang.. ku legakn penat lelah perjuangannya dengan gurauan manja.. ku cukupkan makan pakainya….si mujahid masih tidak boleh leka dr perjuangannya!! Ya Allah, aku kah yang akan menjadi fitnah yang melekakannya dari perjuangannya yg dulu cukup ikhlas hanya untuk Rabbnya???…..

 

“Katakanlah, “ Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, ISTERI-ISTERImu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khuwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya” dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”…..[9:24] 

 Oh tidak!! Aku tidak mahu menjadi penyebab si mujahid leka akan tanggungjawabnya yang lebih besar…tanggungjawabnya utk Ad-Deen ini…. Tapi sanggupkah??…sanggupkah diri ini hanya memperoleh secebis hati si mujahid yg telah sarat dgn cintanya kepada yg lebih berhak?? Sanggupkah diri ini sering ditinggalkn tatkala si mujahid perlu ke medan juang?? Malah sanggupkah diri ini melepaskn si mujahid pergi sedangkn hati ini tahu si mujahid yg teramat di cintai mungkin akan keguguran di medan juang??..sanggupkah???  

Ya Allah… Layakkah diri ini menginginkan suami semulia Rasulullah..sedangkn diri ini tidak sehebat Khadijah mahupun Aisyah… Lihat sahaja isteri-isteri Nabi… Ummul-muslimin…Ummi-ummi kita…lihat saja perjuangan dan pengorbanan mereka… lihat sahaja ketabahan hati mereka… sehinggakn setelah diberi pilihan antara cinta duniawi dan cinta mereka terhadap Allah dan Rasul…Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut’ah dan ku ceraikan kamu dengan cara yang baik“ [33:28] 

Allah dan Rasul tetap menjadi pilihan! Mampukah aku menjadi seperti mereka?? Mampukah aku membuat pilihan yang sama kelak, setelah mabuk di lautan cinta kehidupan berumah tangga?? Mampukah aku mengingatkn si mujahid tatkala dia terlupa dan terleka dari cintanya dan tugasnya demi Rabbnya?? Atau aku juga akan turut hanyut malah lebih melemaskn lagi si mujahid dengan cinta duniawi??  

             Hati, janganlah kau sibuk mengejar cinta mujahid, tetapi kejarlah cinta Penciptanya…Hati, janganlah kau lekakan aku dengan angan-anganmu…sedangkan masih terlalu banyak ilmu yg perlu ku raih…. Hati, sedarkah engkau ujian itu sunnah perjuangan??…tapi kau masih terlau rapuh utk menghadapinya…kau perlu tabah!! dan aku tahu, kau tak mampu utk menjadi sebegitu tabah hanya dalam sehari dua…  Duhai hati… bersabarlah… perjalanan kita masih jauh…. bersabarlah… teruskan doamu… hari itu akan tiba jua…. pabila engkau telah bersedia menghadapinya kelak…. bersabarlah…..     

( Artikel yang ana ambil dari dakwah info.Cukup terkesan di hati di saat2 menghitung hari untuk menjadi mujahidah seorang pejuang agama Allah.Layakkah ana???)

Barakallahuma…

8 Nov

slide21slide2slide12

Kerana ukhuwwah ini…

5 Nov

Ari ni agak hectic sikit, since kul 10 pagi dah keluar rumah. Destinasi yang pertama-SMKAM. Erm, rindunya kat sekolah lama. Masuk je pintu pagar sekolah, kenangan lama terbayang di benak ana. Kenangan bersama kawan2 lama yang sama2 mengejar cita2, terkenangkan jasa cikgu2 yang banyak berkorban utk diri ni. Masakan tidak, selama lima tahun di sinilah ana mengukir cita2 dan mengaut ilmu duniawi dan ukhrawi. Di sinilah juga ana mempelajari erti kehidupan walaupun masih samar2 ttg erti hidup ini. Untuk apa, kenapa dan byk lagi persoalan bermain di benak ana semasa zaman persekolahan dulu. Yang paling menggamit rasa rindu ana bila terpandang bilik kaunseling dan bilik bahasa, Di sinilah, ukhuwwah bermula dan yang paling ana hargai, di sinilah titik mula ana mengenali tarbiyyah. Alhamdulillah, syukur padaMu ya Allah, kini ana masih berada di jalan dakwah ini dan harapannya moga jalan inilah akan menjiwai kehidupan ana hingga akhirnya. Salam ukhuwwah dan salam kerinduan untuk kawan2 yang sama2 dahagakan tarbiyyah suatu masa dulu- Anis, Shahizatul, Molly dan Rufaidah. Moga ukhuwwah yang terbina kita bajai dengan nur kasihNya. Insya Allah. 

Destinasi yang kedua-Kuala Besut, menziarahi ukhti yang baru kematian neneknya. Kerana ukhuwwah,ana sanggup pergi merentas sempadan Kelantan dan Terengganu, untuk menziarahi ukhti Aisyatul. Bersendirian pulak tu. Inilah hebatnya sebuah ukhuwwah, yang tak mengenal umur, tempat tinggal dan tak de pun tautan kekeluargaan. Tapi, tarbiyyah telah mengajar kita untuk berukhuwwah, saling berkasih sayang di jalan ini. Masakan tidak, betapa pentingnya nilai sebuah ukhuwwah ni, Imam AsSyahid Hassan AlBanna meletakkan ukhuwwah sebagai salah satu rukun2 tarbiyyah. Takziah utk Ukhti Aisyatul dan keluarga.

Dari Kuala Besut, ana drive pula ke Pasir Puteh, menziarahi akhawat sambil2 mendistributekan kad walimah ana. Subhanallah, hebatnya kuasa ukhuwwah fillah. Walaupun jarang2 berjumpa dengan akhawat di Kelantan, tapi, kerana sebuah ukhuwwah dan sama2 berkongsi misi dan visi, kami masih tetap mesra dan perasaan rindu pada akhawat ni terurai sudah. Satu kepuasan bila berjumpa akhawat. Terasa diri ini kembali terpandu dalam tarbiyyah imaniyyah. Mungkin inilah yang dinamakan aura sebuah ukhuwwah fillah. Bertemu saling bertanya khabar iman, sudah memadai untuk melepaskan rasa rindu pada akhawat. Tapi, sayangnya, tak boleh berlama2 bersama akhawat, kerana mengingatkan diri ni masih di bawah tanggungjawab dan perhatian syuyukh(orang tua), terpaksa balik ke rumah bilamana matahari mula melabuhkan tirai sirnanya. Lagipun, Ummi dah beberapa kali call remindkan diri ini supaya balik awal, tak elok anak dara berjalan sorang dalam waktu Maghrib ni.

Barakallahuma…

3 Nov

 

Assalamualaikum wbt

Jemputan ke Majlis Kenduri Kesyukuran

Akh Mohd Zahir Mohd Ariffin

dengan

Ukht Nurul Izza Mohd Zahidi

 

Walimah pihak perempuan

13 December 2008

12 pm- 6 pm

Batu 11 1/2 Ketereh,

16450 Kota Bharu,

Kelantan.

 

Walimah pihak lelaki

14 December 2008

12 pm- 6pm

Kg Banggol Chica,

Pasir Mas,

Kelantan.