Archive | April, 2012

Sesuatu yang menghilangkan nilai-nilai doa

22 Apr

Diantara permasalahan yang dapat menghilangkan nilai-nilai doa atau pengaruh doa terhdap pelakunya adalah :

1-sikap tergesa-gesa dalam berdoa

2-merasa tidak diterima doanya

3-merasa rugi dalam melakukan doa

4- tidak pernah melakukan doa pada waktu mendapat kesenangan dan berdoa sekuat tenaga apabila dihimpit kesukaran.

                Orang yang berdoa serupa dengan orang yang menaburkan benih atau orang yang sedang menanam tanaman, maka ia harus rajin merawat dan menyiraminya, maka jika dia jarang merawatnya  atau malas menyiraminya, tanaman itu akan tumbuh dengan buruk, begitu juga jika seseorang berdoa dengan sikap tergesa-gesa, atau berdoa pada waktu tertentu sahaja, maka doa tersebut kurang sempurna, lambat sampai ke sisi Allah swt dan lambat pula terkabulnya.

                Dalam sebuah hadis dalm Sahih Bukhari, disebutkan hadis yang berasal dari Abu Hurairah ra, bahawa Rasulullah saw bersabda  :

“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan apabila kalian berdoa dengan sikap tidak tergesa-gesa”

                Kemudian, salah seorang shabat berkata lagi : “Aku telah berdoa namun doaku belum dimakbulkan lagi.” (Imam Bukhari dan Imam Muslim)

                Dalam hadis Imam Muslim disebutkan:
                “Doa seseorang hamba akan selalu dikabulkan apabila dia tidak melakukan perbuatan maksiat, atau tidak memutuskan hubungan sanak keluarga dan jika pada ketika berdoa tidak dengan sikap tergesa-gesa.” Kemudian Rasulullah saw ditanya: “Apakah yang dimaksudkan dengan tergesa-gesa itu?” Lalu Rasulullah saw menjawab: “Tergesa-gesa itu maksudnya bahawa seseorang selalu mengatakan, “saya telah berdoa, saya telah berdoa,” padahal dia belum mengetahui apakah doanya diterima atau tidak, maka orang yang demikian ini akan merasa rugi jika doanya tidak dimakbulkan, yang akibatnya dia meninggalkan berdoa atau bosan untuk berdoa.”

                Sedangkan dalam hadis Imam Ahmad yang disebutkan dalm kitab Musnad, iaitu hadis yang berasal dari Anas bahawa dia berkata: Rasulullah saw telah bersabda :

                “Seseorang itu akan selalu dalam kebaikan selama dia tidak bersikap tergesa-gesa,” kemudian para sahabat bertanya: “Apakah yang dimaksudkan tergesa-gesa itu, wahai Rasulullah saw? Kemudian Rasulullah saw menjawab : “Tergesa-gesa itu maksudnya seseorang yang mengatakan: “Aku telah berdoa kepada Tuhanku dan hingga sekarang belum dikabulkan.”

 

Petikan :Penyakit Rohani dan Penyembuhannya oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziah

Advertisements

Saat bersammu cinta pun perlu ILMU

20 Apr

Berkomunikasi, bagi manusia yang hidup tak sendiri, adalah kebutuhan. Berkomunikasi bagi dua orang yang seatap sekamar mandi, adalah keniscayaan. Dengan komunikasi kita mengungkapkan perasaan, hasrat, cita-cita dan cinta. Dengan komunikasi, kita berbagi. Dengan komunikasi kita saling member penguatan, motivasi dan sejuta hal yang tak bisa hanya kita pendam dalam hati. Seperti kata Ustaz Anis Matta, cinta selalu menghajatkan kata. Dan berawal dari katalah sebuah komunikasi-verbal utamanya- terjadi.

 Sudah selayaknya bagi kita, untuk memanfaatkan komunikasi sebagai saranan mengakrabkan hati, memadukan jiwa, dan menumbuhkan cinta. Demikianlah Allah menjadikan kita mampu berbicara., mendengar, dan memahami, agar kita menjadikan suami atau isteri, sebagai sahabat berbagi dalam beribadah dan menunaikan perintah-perintahNya.

Permasalahan menjadi pelik, ketika ilmu tentang komunikasi itupun tak dimiliki. Yang terjadi di rumah kita seringkali bukanlah komunikasi. Hanya suara yang lalu lalang di antara dua orang. Tidak ada timbal balik. Tidak ada yang bisa disebut sebagai komunikator. Tak ada yang pantas disebut sebagai komunikan.

Cukuplah memang iman dan takwa sebagai bekal hidup. dan ia adalah sebaik-baik bekal. Tetapi setahu saya, keimanan bertambah dan berkurang naik dan turun. Dan setahu saya, iman serta taqwa pun menghajatkan ilmu. Maka Allah berfirman, “Fa’lam annahu Laa Ilaaha Illallaah”, maka ilmuilah sesungguhnya tiada Ilah selain Allah”. Berilmulah sebelum mengimaninya. Maka Imam Al- Bukhari menulis bab pertamanya, ‘Al-ilmu Qabal Qauli wal ‘Amaal”, Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. Kalau sedikit kita ubah kata-katanya, maka menjadi, “Ilmu, sebelum berkomunikasi dan bertindak”.

Barakah yang kita temukan di beningnya air mata

18 Apr

“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (Al-Ankabut : 2-3)

                Tiada yang akan dibiarkan Allah sekadar mengatakan kami telah beriman, sebelum ia diuji. Seolah, Allah telah memproklamasikan, bahawa konsekuensi iman adalah ujian. Dalam iman ada penjenjangan. Dalam syurga ada tingkatan-tingkatan. Dan untuk menempatkan makhlukNya, Allah memberikan ujian-ujian. Dan sungguh kita tak sendiri. Orang-orang sebelum kita pun telah diuji, maka  Allah memiliki hujjah atas orang-orang yang berjihad dan bersabar.

                Mengapa ujian terasa begitu berat? Yang pasti, Ia tak membebani hambaNya di luar kesanggupannya. Tetapi, jangan salah mengertikan. Kalau ujian itu hadir untuk kita, artinya Allah maha Tahu bahawa kita mampu menanggungnya. Selebihnya, adalah soal kemauan untuk menghadapi dan  bukannya melarikan diri. Kesungguhan untuk mengatasi dan bukannya bertiarap. Meski, rasa manusiawi adalah kewajaran.

                Di saat apapun, barakah itu membawakan kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi  suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apa pun masalah yang sedang membadai rumahtangga kita. Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik-nitik. Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.